Library.uib.ac.id

Andreina Salzuskya

Program Studi Akuntansi, Universitas Internasional Batam

Email: salzuskyaa74@gmail.com

Abstrak
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital telah membawa perubahan besar terhadap cara manusia berbahasa, berbudaya, dan berliterasi. Bahasa dan budaya sebagai dua unsur penting dalam kehidupan manusia kini berinteraksi erat dengan dunia digital, yang di satu sisi memperkaya akses informasi dan ekspresi, namun di sisi lain juga menimbulkan tantangan terhadap pelestarian identitas bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara teknologi dan literasi digital, serta menggali bagaimana keduanya dapat dimanfaatkan untuk menjaga dan melestarikan bahasa serta budaya Indonesia. Melalui tinjauan pustaka dan pengamatan sederhana terhadap kebiasaan membaca generasi muda, ditemukan bahwa literasi digital telah mengubah bentuk dan pola interaksi masyarakat dengan informasi. Akses terhadap e-book, platform digital, dan media sosial membuka peluang besar bagi peningkatan literasi, asalkan diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan etika digital. Kesimpulannya, teknologi merupakan alat yang dapat memperkuat literasi dan pelestarian budaya jika digunakan secara bijak. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam mengembangkan literasi digital yang berorientasi pada penguatan identitas bangsa.

Kata kunci: literasi digital, teknologi, bahasa, budaya, pelestarian budaya

Latar Belakang

Bahasa dan budaya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Lewat bahasa, kita bisa berpikir, berkomunikasi, dan mewariskan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi. Memasuki era digital yang penuh dengan teknologi yang berkembang begitu cepat sehingga membawa dampak besar pada cara kita berbahasa dan berbudaya.

Kita bisa lihat sendiri, banyak anak muda yang lebih sering menggunakan campuran bahasa asing di media sosial, atau lebih memilih membaca konten luar negeri dibanding karya sastra lokal. Hal ini menunjukkan bahwa budaya digital sedikit demi sedikit memengaruhi cara kita berkomunikasi dan mengenal jati diri bangsa.

Tapi di sisi lain, teknologi juga bisa jadi alat luar biasa untuk melestarikan bahasa dan budaya. Melalui literasi digital seperti menulis di blog, membuat e-book, atau berbagi cerita budaya lewat media sosial kita bisa menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal dunia. Jadi, bukan soal melawan teknologi, tapi bagaimana kita memanfaatkannya untuk memperkuat identitas bangsa.

Ide/Gagasan dan Solusi

Pada era revolusi industri 5.0, Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya membawa dampak positif tetapi juga sejumlah dampak negatif, maka dari itu masyarakat seharusnya memiliki kemampuan literasi digital untuk menyikapi perkembangan teknologi informasi secara positif.

Istilah literasi digital pertama kali diperkenalkan oleh (Paul Gilster, 1997). Menurut Gilster, literasi digital adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital secara efektif dan efisien dalam berbagai bentuk. Sementara itu, menurut (UNESCO, 2019), literasi digital membantu masyarakat agar lebih kritis terhadap informasi yang tersebar cepat di internet. Artinya, orang yang literat bukan sekadar bisa membaca tetapi juga bisa membedakan fakta dan opini.

Dalam konteks globalisasi dan digitalisasi yang semakin maju, literasi digital tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, individu diharapkan mampu mengikuti perubahan adaptasi yang terus menerus terhadap cara informasi diproduksi dan disebarluaskan.

Dengan adanya pemahaman literasi digital masyarakat akan mampu menerima dan megolah informasi serta mampu mengaplikasikan informasi dengan bijak. Masyarakat juga cenderung berfikir kritis dan kreatif, serta memiliki pola pemikiran yang berbeda karena tidak adanya keterbatasan dalam mendapatkan pengetahuan.

Kemajuan teknologi membuat literasi makin mudah diakses. Buku kini hadir dalam bentuk e-book dan audiobook, hingga aplikasi baca interaktif. Platform seperti Wattpad, Google Books, dan e-resources Perpusnas membuat siapa pun bisa membaca di mana saja. Bahkan media sosial pun bisa jadi tempat literasi baru selama penggunanya bijak memilih konten. Misalnya, banyak anak muda yang awalnya tidak suka membaca, tetapi menjadi gemar karena menemukan cerita-cerita ringan di platform digital. Dari sinilah literasi bisa tumbuh secara alami dimulai dari minat, lalu berkembang menjadi kebiasaan.

Perkembangan teknologi literasi digital ini membawa banyak sekali dampak, baik dampak positif maupun negatif. Dampak positif yang ditimbulkan antara lain:

  1. Bisa mengakses informasi dimanapun dan kapanpun
  2. Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis.

Selain dampak positif, ada pula dampak negatif yang ditimbulkan, antara lain:

  1. Kecanduan akan ber-sosial media dan melakukan perbuatan buruk, seperti cyberbullyng.
  2. Mudahnya tersebar berita hoaks
  3. Fokus membaca berkurang karena distraksi sosial media.

Dari sini terlihat bahwa teknologi adalah pisau bermata dua. Dapat menumbuhkan literasi, tapi juga dapat menurunkannya jika tidak digunakan secara bijak. Generasi sekarang tumbuh bersama teknologi. Berdasarkan survei kecil yang penulis lakukan terhadap 20 teman sebaya, 70% lebih sering membaca lewat ponsel dibanding buku cetak. Namun menariknya, 60% mengatakan mereka lebih sering membaca informasi pendek seperti caption, berita singkat, atau artikel media sosial. Artinya, literasi mereka tidak hilang, tetapi berubah bentuk. Tugas kita bukan melawan perubahan ini, melainkan mengarahkan teknologi agar membantu membaca lebih dalam, bukan sekadar membaca cepat.

Manfaat dan Kesimpulan

Teknologi telah membawa dunia literasi ke tahap baru: lebih cepat, lebih luas, dan lebih mudah dijangkau. Namun, kemudahan ini juga menuntut tanggung jawab. Literasi di era digital bukan hanya soal membaca, tetapi juga memahami, menyaring, dan berpikir kritis terhadap informasi.

Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu terus mengembangkan program literasi digital. Sementara itu, masyarakat terutama generasi muda perlu belajar menggunakan teknologi bukan hanya untuk hiburan, tapi juga untuk memperkaya pikiran. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat; manusialah yang menentukan seberapa jauh pengetahuan bisa tumbuh.

Daftar Pustaka

Chayati, Nur Siti. (2023). Literasi Digital Dalam Dunia Pendidikan. Jakarta: Hikam Media Utama.

Cendana, W., Hasnin, H. D., & Deswarni, D. (2022). Literasi Digital. Jakarta: Bintang Pusnas.

Munthe, P. D. (2019). Belajar dalam Dunia Literasi Digital. Jakarta: Bintang Pusnas.

Setiawati, U. (2022). Literasi Digital dalam Karya Ilmiah. Jakarta: Bintang Pusnas.

UNESCO. (2017). Global Education Monitoring Report. Paris: UNESCO Publishing.