Feren Hallatu
Fakultas Ilmu Hukum, Universitas Internasional Batam
Email: ferenhallatu@gmail.com
Abstrak
Di era AI, generasi muda menghadapi paradoks literasi: akses informasi mudah, tetapi kemampuan membaca kritis dan memahami makna menurun akibat algoritma digital dan budaya cepat di media sosial. Karya ini menganalisis peran bahasa sebagai fondasi literasi dan hubungannya dengan literasi keuangan. Hasil analisis, literasi bahasa yang kuat meningkatkan kemampuan menafsir informasi dan mengambil keputusan bijak. Gagasan utama dalam kajian ini adalah pengembangan ekosistem “Bahasa Cerdas Finansial” melalui pembelajaran bahasa, literasi digital, dan kolaborasi dengan teknologi AI. Literasi sejati menuntun generasi muda berpikir kritis, reflektif, dan bertindak bijak di era digital.
Kata kunci: literasi digital, literasi bahasa, literasi keuangan, AI, pemikiran kritis.
Latar Belakang
Aktivitas masyarakat seperti yang kita tahu, setiap pagi kita membuka mata, dan layar ponsel sudah lebih dulu menyapa. Berita, tren, dan video pendek berbaris di depan mata, seolah berlomba merebut perhatian. Namun, di tengah derasnya arus digital itu, satu pertanyaan perlahan menggema: apakah kita masih membaca untuk memahami atau sekadar menggulir untuk melupakan?
Era kecerdasan buatan (AI) memang menghadirkan kemudahan luar biasa. Segala hal dapat diakses hanya dengan satu klik. Tetapi, di balik kemudahan itu, ada paradoks baru: literasi manusia justru kian rapuh. Berdasarkan laporan (UNESCO, 2025), tingkat literasi membaca di Indonesia masih berada di peringkat 61 dari 70 negara yang disurvei. Sementara survei (Kementerian Kominfo, 2025) menunjukkan bahwa 64% generasi muda Indonesia menggunakan media sosial lebih dari 5 jam per hari, namun hanya 18% yang menggunakannya untuk kegiatan belajar atau membaca informasi mendalam. Di sisi lain, perkembangan teknologi AI dan algoritma personalisasi membuat manusia terjebak dalam ruang gema digital di mana kita hanya mendengar hal-hal yang ingin kita dengar. Akibatnya, pemikiran kritis melemah, wawasan menyempit, dan kemampuan menilai kebenaran informasi memudar.
Generasi muda kian kehilangan kebiasaan membaca teks panjang, padahal justru dari bacaan yang kompleks kemampuan menalar daapt terbentuk. Mengapa bisa begitu? Apa yang menjadi penyebaba kita kehilangan makna di tengah banjir informasi? Jawabannya mungkin terletak pada algoritma, sebuah sistem yang kini diam-diam menentukan apa yang kita lihat, pikirkan, bahkan percayai. Algoritma membuat kita nyaman di gelembung informasi yang sesuai dengan minat kita, namun secara perlahan mengikis kemampuan berpikir kritis. Di sinilah literasi bukan lagi sekadar kemampuan teknis membaca, melainkan perjuangan menemukan makna di antara ribuan informasi yang saling bertabrakan.
Bahasa bukan sekadar kumpulan kata. Ia adalah alat berpikir, alat menalar, dan alat memahami dunia. Melalui bahasa, manusia belajar memilah benar dan salah, fakta dan opini, makna dan kebisingan. Maka, ketika kemampuan berbahasa seseorang melemah, kemampuan berpikir kritis pun ikut rapuh.
(Penelitian Pusat Bahasa, 2025) mencatat bahwa 73% pelajar SMA dan mahasiswa di Indonesia kesulitan memahami bacaan analitis yang mengandung argumen sebab-akibat. Sebagian besar hanya membaca permukaannya tanpa benar-benar menangkap pesan mendalamnya. Di sinilah masalah literasi modern bermula: bukan karena kita tidak bisa membaca, tetapi karena kita tidak lagi terbiasa memahami. Sayangnya, budaya cepat di media sosial membuat bahasa ikut tergulung. Pesan yang seharusnya mendalam kini disingkat menjadi potongan singkat penuh emosi: caption, emoji, dan istilah viral. Bahasa kehilangan bobot, dan literasi kehilangan arah. Padahal, bahasa adalah fondasi dari setiap bidang ilmu termasuk ekonomi, teknologi, dan hukum. Tanpa kemampuan bahasa yang kuat, mustahil seseorang dapat memahami kontrak keuangan, membaca data ekonomi, atau mengkritisi kebijakan publik dengan bijak.
Bahasa yang kuat akan melahirkan literasi yang kokoh. Literasi yang kokoh akan menuntun pada kemampuan berpikir logis, rasional, dan reflektif. Lalu, bagaimana literasi ini bisa berdampak lebih luas, hingga ke bidang yang tampak tak berhubungan seperti keuangan? Di sinilah hubungan Bahasa Membangun Literasi, Literasi Menguatkan Keuangan. Sekilas, literasi dan keuangan tampak berbeda. Namun, keduanya sama-sama menuntut satu kemampuan kunci: memahami makna di balik informasi.
Ketika seseorang memahami bahasa dengan baik, ia mampu membaca tidak hanya teks, tapi juga konteks termasuk bahasa ekonomi yang beredar di media. Misalnya, seseorang yang paham makna istilah bunga efektif, cicilan tetap, atau utang konsumtif akan lebih bijak mengambil keputusan finansial dibanding yang hanya tergoda oleh kata “promo” dan diskon besar. Faktanya, survei (Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 2025) menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 52,8%, naik sedikit dari 49,7% pada 2022. Artinya, hampir separuh masyarakat belum benar-benar memahami cara mengelola uangnya. Padahal, di era digital ini, jebakan keuangan bisa muncul di mana saja dari aplikasi pinjaman daring, investasi bodong, hingga iklan konsumtif yang dibungkus dengan kata-kata manis. Lalu, di titik ini kita perlu bertanya: apakah literasi digital tanpa literasi bahasa cukup untuk menyelamatkan kita dari jebakan konsumtif algoritma? Jawabannya jelas: tidak. Sebab tanpa kemampuan memahami bahasa, kita mudah percaya, mudah tergoda, dan mudah terseret arus digital yang menipu dengan keindahan semu.
Ide/Gagasan dan Solusi
Untuk menjawab tantangan ini, gagasan yang ditawarkan adalah pembentukan ekosistem Bahasa Cerdas Finansial. Sebuah pendekatan yang menggabungkan kekuatan bahasa, literasi kritis, dan kesadaran finansial. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Integrasi literasi keuangan dalam pembelajaran bahasa. 2) Teks bacaan, artikel opini, atau debat kelas diarahkan untuk membahas tema ekonomi sederhana: cara menabung digital, memahami transaksi daring, hingga etika dalam ekonomi digital. 3) Pelatihan kritis digital. Melalui kegiatan literasi keuangan, mahasiswa diajak menganalisis bagaimana bahasa iklan dan media sosial membentuk budaya konsumtif. Mereka belajar bertanya: “Apakah semua yang viral harus dibeli? Mengapa kata gratis terasa begitu menggoda?” 4) Kolaborasi bahasa dan teknologi platform AI seperti chatbot edukatif dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman finansial melalui bahasa yang sederhana dan kontekstual. 5) Gerakan literasi interaktif. Perpustakaan dan universitas dapat menjadi ruang eksperimen literasi baru, di mana mahasiswa bukan hanya membaca, tapi mencipta konten bermakna esai, video edukasi, hingga karya ilmiah populer. Dengan begitu, literasi tidak berhenti pada teori saja, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari. Selain itu, lahir juga ide untuk mengembangkan AI Literacy Labs, wadah kolaboratif antara mahasiswa, dosen, dan pengembang teknologi untuk menciptakan alat bantu belajar berbasis AI yang mendidik tidak hanya sekadar menghibur. Di sinilah generasi muda belajar memanfaatkan dan mengembangkan teknologi, bukan hanya sebagai konsumen saja. Dengan pendekatan ini, mahasiswa dan generasi muda akan terbiasa membaca secara kritis, berpikir secara reflektif, dan bertindak secara bijak. Bahasa bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi alat kesadaran finansial.
Manfaat dan Kesimpulan
Sekarang ini, AI dapat menulis puisi, menggambar, bahkan memberi nasihat keuangan. Manusia ditantang untuk kembali menemukan sisi terdalam dari dirinya: kemampuan memahami makna. Teknologi boleh mengambil alih banyak hal, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan rasa ingin tahu, akal kritis, dan empati bahasa manusia.
Sebagaimana dikatakan Paulo Freire, “Membaca dunia sama pentingnya dengan membaca kata.” Artinya, literasi bukan hanya tentang mengenali huruf, tetapi memahami kehidupan, realitas sosial, dan arah perubahan zaman. Literasi yang sejati bukan sekadar tahu, tapi mampu menafsir, menimbang, dan bertindak. Menariknya, survei (PISA & OECD, 2025) menunjukkan bahwa pelajar yang aktif berlatih reading comprehension dan menulis refleksi digital memiliki kemampuan pengambilan keputusan finansial 34% lebih tinggi dibanding yang tidak. Artinya, kemampuan berbahasa dan berpikir kritis benar-benar berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan finansial.
Di Indonesia, hasil riset (Katadata Insight Center, 2025) juga menyebutkan bahwa generasi Z yang memiliki kebiasaan membaca artikel edukatif minimal 15 menit per hari lebih bijak dalam pengelolaan uang digital dan jarang terjebak dalam buy now pay later culture. Maka, literasi abad ke-21 bukan lagi sekadar membaca atau menulis. Ia adalah kemampuan menyaring informasi, membangun makna, dan menghubungkan ilmu dengan kehidupan nyata. Literasi yang tangguh akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga matang secara moral dan finansial. Namun, kita juga harus jujur: di tengah derasnya arus media sosial, banyak anak muda kehilangan keheningan untuk berpikir. Padahal, dari keheninganlah lahir pemahaman, dan dari pemahamanlah muncul perubahan. Karena itu, membaca seharusnya bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga tindakan spiritual cara untuk kembali memahami diri dan dunia.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Apa gunanya membaca seribu artikel, jika tak satu pun mengubah cara kita berpikir? Sebab literasi sejati bukan diukur dari banyaknya bacaan yang diselesaikan, melainkan dari seberapa jauh bacaan itu membentuk karakter dan keputusan hidup kita. Jadi, ketika dunia bergerak cepat dan algoritma menelan perhatian kita, barangkali sudah saatnya kita bertanya: Apakah kita masih membaca untuk tumbuh atau sekadar membaca agar tak ketinggalan tren? Karena pada akhirnya, literasi bukan tentang banyaknya informasi yang kita tahu, tapi sejauh mana kita memaknai setiap kata yang membentuk cara kita berpikir, bertindak, dan mengelola kehidupan.
Daftar Pustaka
UNESCO. (2025). Global Literacy Report. Paris: UNESCO Publishing.
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. (2025). Survei Literasi Digital Nasional.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2025). Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional.
Pusat Bahasa dan Kebudayaan Nasional. (2025).
Laporan Kemampuan Bahasa dan Literasi Pelajar Indonesia. Freire, P. (2025). Pedagogy of the Heart. New York: Continuum Publishing.