Qania
Arsitektur, Universitas Internasional Batam
Email: qania.effendy@gmail.com
Abstrak
Siswa slow learner seringkali menghadapi kendala signifikan dalam pemahaman membaca (reading comprehension) akibat kesulitan dalam pemrosesan informasi dan memori. Karya ilmiah ini mengusulkan implementasi software Text-to-Speech (TTS) sebagai solusi teknologi asistif yang inovatif. Metode Text-to-Speech mengonversi teks digital menjadi suara, memungkinkan siswa slow learner untuk menerima informasi melalui pemanfaatan pendengaran dan visual secara bersamaan. Hal ini dapat mengurangi beban kognitif anak saat proses menyaring informasi dari literatur, sehingga energi mental dapat lebih difokuskan pada pemahaman makna. Implementasinya dalam skenario pembelajaran tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan motivasi belajar siswa. Disimpulkan bahwa integrasi TTS ke dalam kurikulum merupakan strategi yang efektif dan inklusif untuk memberdayakan potensi literasi siswa slow learner, dengan manfaat yang juga dirasakan oleh guru dan sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih adil dan adaptif.
Kata kunci: text-to-speech, pemahaman membaca, slow learner, teknologi asistif, pendidikan inklusif.
Abstract
Slow learners often face significant challenges in reading comprehension due to difficulties in information processing and memory. This scientific paper proposes the implementation of Text-to-Speech (TTS) software as an innovative assistive technology solution. The Text-to-Speech method converts digital text into speech, allowing slow learners to receive information through the simultaneous use of hearing and vision. This can reduce the cognitive load on children when filtering information from literature, allowing them to focus more of their mental energy on understanding meaning. Its implementation in learning scenarios not only improves academic ability but also builds students’ confidence and motivation to learn. It is concluded that the integration of TTS into the curriculum is an effective and inclusive strategy to empower the literacy potential of slow learners, with benefits also felt by teachers and schools in creating a more equitable and adaptive learning environment.
Keywords: text-to-speech, reading comprehension, slow learners, assistive technology, inclusive education.
Latar Belakang
Pemahaman dalam membaca (reading comprehension) merupakan poin penting yang menjadi pedoman dalam banyak kegiatan, terutama dalam kegiatan dengan ruang lingkup pendidikan yang para pengguna terlibat dipaksa untuk dapat memahami dan berpikir secara kritis dalam waktu singkat. Para anak didik sudah semestinya menguasai serta mengasah pemahamannya dalam menangkap suatu informasi melalui referensi bacaan yang ditelaah. Namun, tak semua cukup beruntung untuk bisa memiliki keterampilan tersebut, salah satunya seperti siswa yang mengidap slow learner. Slow learner adalah mereka yang memiliki prestasi belajar rendah atau sedikit di bawah rata-rata dari anak pada umumnya, pada salah satu atau seluruh area akademik, jika dilakukan pengentasan pada IQ (Intelligence Question) skor tes IQ mereka menunjukkan skor antara 70 dan 90 (Nurfadhillah et al., 2021). Siswa slow learner memerlukan lebih banyak waktu untuk memahami materi pelajaran dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Slow learner memiliki karakteristik khusus seperti mengalami keterlambatan dalam belajar, kesulitan dengan hafalan dan pemahaman, sulit dalam berkomunikasi baik secara ekspresif maupun dalam memahami percakapan orang lain, ketidakstabilan emosi yang ditandai dengan kemudahan marah dan meledak-ledak, serta kesulitan dalam bersosialisasi dengan orang lain. Dengan karakteristik seperti inilah membuat para tenaga pendidik di kelas inklusif harus terus berinovasi dalam memberikan kurikulum pendidikan serta metode pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan sang anak. Pada zaman sekarang yang begitu gencar akan kemajuan teknologi, semakin memberi banyak opsi perluasan dan fleksibilitas dalam penyampaian materi tenaga pendidik kepada siswa slow learner. Salah satunya seperti pemanfaatan teknologi software Text-to-Speech (TTS).
Ide/Gagasan dan Solusi
Gagasan utama yang diajukan yakni dengan mengintegrasikan penggunaan software Text-to-Speech (TTS) ke dalam metode pembelajaran para pendidik kepada anak didik yang berkebutuhan khusus. Dalam konteks tema karya tulis ini yakni para anak didik pengidap slow learner. Penggunaan software Text-to-Speech dalam pembelajaran kelas inklusif ini memberikan inovasi baru yang dapat membantu baik dari pihak tenaga pengajar maupun murid. Pemanfaatan Text-to-Speech kepada murid dapat membangun kelancaran sang anak dalam memahami suatu bacaan, dengan intonasi, pelafalan, serta ritme berbahasa yang tepat.
Para anak didik secara tidak langsung jadi mempelajari dan memahami cara membaca yang baik dan benar. Dengan pemanfaatan software Text-to-Speech ini, para anak bisa membaca dan mendengarkan secara sekaligus. Hal tersebut dinilai cukup bagus untuk memori anak. Apa yang dibaca semakin melekat di otak, karena kata yang dilihat dan didengar secara bersamaan akan lebih mudah untuk dikonversikan menjadi memori jangka panjang, sehingga dapat mengasah kemahiran anak dalam membaca.
Dengan banyaknya fungsi yang dapat disajikan serta beragam manfaat yang didapat, perlu didukung dengan pemilihan software Text-to-Speech yang tepat. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan software Text-to-Speech yang paling utama ialah kualitas suaranya. Suara yang dihasilkan diharapkan memiliki konotasi yang natural dan mudah diresapi serta lebih memprioritaskan software yang dapat menyorot suatu kata penting yang menjadi inti atau kunci dari suatu bacaan. Hal ini akan sangat membantu anak slow learner, sehingga mereka dapat memahami teks bacaan dengan lebih cepat.
Pemanfaatan software Text-to-Speech: para guru memperkenalkan software tersebut, bagaimana cara penggunaannya, serta memberi bimbingan lainnya yang dibutuhkan agar para anak didik dapat menikmati teknologi yang mereka dapatkan secara optimal. Nantinya, para guru perlu mempersiapkan materi pembelajaran dalam bentuk PDF, PPT, dan sejenisnya yang dapat menunjang pembelajaran. Kemudian, para anak didik slow learner dapat menggunakan gawai sebagai sarana penyampaian materi. Mereka dapat membaca sembari mendengarkan suara dari Text-to-Speech. Saat mengerjakan soal, soal akan dibaca sekaligus didengar secara perlahan sampai akhirnya sang anak didik mencerna apa yang telah dibaca. Sehingga, yang akan dinilai nantinya lebih mengarah pada pemahaman sang anak terhadap literatur yang didapat daripada kecepatan sang anak dalam menjawab.
Manfaat dan Kesimpulan
Implementasi software TTS memberikan begitu banyak manfaat ke banyak orang pula, yakni:
- Bagi siswa slow learner
Dengan pemanfaatan fungsi dan teknis software Text-to-Speech, para siswa menjadi semakin mudah dalam memahami dan meresapi inti dari suatu bacaan. Hal ini akan berdampak bagus dalam tumbuh kembang serta intelektual sang anak. Dari hal tersebut juga dapat membantu anak slow learner membangun kembali rasa percaya diri mereka. Meski memiliki kondisi spesial, mereka tetap bisa bersaing seperti anak pada umumnya.
- Bagi guru
Dengan pemanfaaatan fungsi dan teknis dari software Text-to-Speech, para guru dapat menyediakan materi pembelajaran dengan lebih kreatif serta inovatif. Dengan cara inipun, guru dengan mudah mengukur kemampuan para murid, mengetahui apakah para murid dapat mengerti materi yang dijelaskan, menguak apa yang menjadi hambatan dalam pembelajaran sang anak didik. Sehingga, guru dapat memahami faktor-faktor lainnya yang selama ini tak pernah terungkap apalagi disadari.
- Bagi sekolah
Dengan pemanfaaatan fungsi dan teknis dari software Text-to-Speech, sekolah akan emdnapatkan citra yang baik, karena sekolah tersebut akan dilihat sebagai sekolah yang melek akan perkembangan zaman dan memanfaatkan teknologi secara kreatif dan menarik. Hal ini dapat meningkatkan reputasi sekolah di mata para masyarakat luas. Metode pembelajaran yang unik inipun juga dirancang untuk membantu para murid slow learner agar dapat mendapatkan pendidikan yang setara dengan murid sekolah biasa, dan dapat membuktikan bahwa sekolah tersebut berusaha menjunjung tinggi keadilan dalam berpendidikan.
Berdasarkan kajian literatur yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Software Text-to-Speech (TTS) adalah sebuah teknologi asistif yang efektif dan terjangkau untuk mengatasi hambatan pemahaman membaca pada siswa slow learner. Keefektifan software ini terletak pada kemampuannya untuk mengurangi beban kognitif anak dalam proses menyaring informasi dari suatu bacaan, sehingga memungkinkan siswa untuk memfokuskan energi mentalnya pada pemahaman makna teks. Implementasinya tidak hanya berdampak baik pada aspek akademik anak, namun juga pada aspek psikologis sang anak didik, seperti dapat kembali membangun kepercayaan diri dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Oleh karena itu, diharapkan sekolah dan para pendidik dapat mempertimbangkan dan mengadopsi teknologi Text-to-Speech sebagai salah satu strategi pembelajaran inovatif dan inklusif untuk memberdayakan setiap siswa, khususnya slow learner dalam mencapai potensi terbaik mereka di bidang literasi. Untuk hasil yang optimal, implementasi TTS perlu diintegrasikan secara sistematis ke dalam rencana pembelajaran, dilengkapi dengan pelatihan bagi guru dan siswa, serta didukung oleh pemilihan materi ajar yang tepat