Muhammad Raffin Althafullayya
Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Email: m.raffin.au1204@gmail.com
Abstrak
Perkembangan teknologi digital di Indonesia membawa paradoks antara kemajuan komunikasi dan ancaman terhadap keberagaman bahasa serta keaslian budaya. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pelestarian Bahasa Indonesia dan identitas budaya dapat dipertahankan melalui pendekatan humanisme Digital di tengah arus globalisasi dan transformasi teknologi. Melalui sintesis berbagai penelitian mutakhir, studi ini mengidentifikasi tiga dimensi utama dalam pelestarian budaya: strategi pendidikan dan praktik adat, keterlibatan komunitas dan dukungan pemerintah, serta adaptasi terhadap perubahan teknologi digital. Gagasan humanisme digital menempatkan manusia sebagai pusat ekosistem digital yang beretika, di mana teknologi berfungsi sebagai sarana memperkuat nilai kemanusiaan dan kebudayaan. Implementasinya mencakup penguatan literasi budaya digital, pengembangan arsitektur budaya digital nasional berbasis artificial intelligence dan augmented reality, serta pemanfaatan media sosial sebagai ruang negosiasi identitas dan ekspresi budaya. Integrasi prinsip Pancasila ke dalam sistem pembelajaran digital juga diusulkan untuk memastikan keberpihakan teknologi terhadap nilai-nilai luhur bangsa. Kajian menunjukkan bahwa sinergi antara inovasi teknologi, pendidikan berkarakter, dan partisipasi masyarakat mampu menciptakan ekosistem budaya digital yang inklusif dan adaptif. Dengan demikian, humanisme digital menawarkan paradigma baru bagi keberlanjutan Bahasa Indonesia dan kebudayaan nasional di era disrupsi teknologi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa beridentitas kuat di tengah arus global modernitas.
Kata kunci: humanisme, digital, ekosistem, budaya.
Latar Belakang
Percepatan transformasi digital di Indonesia menghadirkan paradoks yang menarik: di satu sisi teknologi memperluas akses komunikasi dan pengetahuan, namun di sisi lain mengancam keberagaman bahasa dan keaslian budaya. Dalam konteks ini, Bahasa Indonesia sebagai perekat persatuan bangsa menghadapi tantangan dan peluang baru. Kajian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana pelestarian bahasa Indonesia dan pemeliharaan identitas budaya dapat dipertahankan di tengah kemajuan teknologi dan arus globalisasi. Fokus utamanya adalah merumuskan strategi pendidikan inovatif, kerangka literasi digital, serta model pemberdayaan sosial-budaya yang mampu menopang keberlanjutan bahasa dan budaya secara harmonis.
Berbagai penelitian mutakhir menunjukkan bahwa komunitas dan organisasi adat di Indonesia telah beradaptasi secara kreatif terhadap lanskap digital. (Novianti et al., 2025) menemukan bahwa Paguyuban Budaya Bangsa dan Lalang Rondor Malesung menggunakan media sosial untuk mempertahankan ajaran dan identitas budaya melalui keterlibatan generasi muda (W Novianti et al., 2025). Pendekatan serupa muncul dalam karya (Amani & Yuly, 2019) yang mengembangkan permainan edukatif “Asiknya Berbahasa” untuk pembelajar BIPA, membuktikan bahwa inovasi digital mampu menghidupkan kembali minat belajar bahasa Indonesia secara interaktif. Sementara itu, (Firmansyah et al., 2024) menunjukkan potensi kecerdasan buatan berbasis nilai-nilai Pancasila dalam menciptakan sistem pembelajaran yang etis dan berakar pada budaya nasional.
Dalam ranah pendidikan, (Ward & Braudt, 2015) menegaskan pentingnya desentralisasi kebijakan bahasa dan pemberdayaan komunitas untuk memperkuat identitas budaya melalui pengajaran bahasa lokal. Studi (Saha Ghafur, 2024) mengenai tradisi Hudoq di Kalimantan Timur juga menyoroti keseimbangan antara modernisasi pariwisata dan pelestarian ritual sakral sebagai wujud ketahanan budaya. Selain itu, (Kembau et al., 2025) menjelaskan bahwa perilaku masyarakat terhadap teknologi dan konsumsi berkelanjutan sangat dipengaruhi oleh narasi budaya dan kesiapan digital.
Gambar 1. Peta Konseptual
Analisis peta konseptual menunjukkan bahwa pelestarian bahasa dan identitas budaya Indonesia bertumpu pada tiga dimensi utama: (1) strategi pelestarian budaya melalui pendidikan dan praktik adat, (2) keterlibatan komunitas lewat dukungan pemerintah dan promosi keragaman, serta (3) perubahan teknologi yang mencakup media sosial dan representasi digital. Ketiganya saling berinteraksi membentuk ekosistem budaya yang adaptif.
Dalam kerangka humanisme digital, teknologi dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan sarana memperkuat nilai kemanusiaan dan kebudayaan. Platform digital menjadi ruang negosiasi identitas, transfer pengetahuan antargenerasi, dan promosi kearifan lokal. Seperti ditegaskan (Novianti et al., 2025), partisipasi generasi muda di ruang digital menjadi kunci pelestarian budaya. Karena itu, kolaborasi antara inovasi teknologi, pendidikan berkarakter, dan keterlibatan masyarakat menjadi dasar keberlanjutan bahasa serta budaya Indonesia.
Ide/Gagasan dan Solusi
Dalam era disrupsi teknologi, gagasan humanisme digital menjadi kerangka penting untuk mereimajinasikan pelestarian bahasa Indonesia dan identitas budaya nasional. Paradigma ini menempatkan manusia, bukan teknologi, sebagai pusat ekosistem digital menjadikan inovasi sebagai sarana memperkuat nilai kemanusiaan, bukan sekadar alat produksi informasi (M. T. Machmud et al., 2024). Dengan menggabungkan prinsip etika budaya, kecerdasan buatan (AI), dan partisipasi masyarakat, konsep ini membentuk fondasi keberlanjutan bahasa dan budaya Indonesia di ruang digital.
Pertama, penguatan literasi budaya digital menjadi langkah fundamental. Melalui platform interaktif seperti e-BIPA dan game edukatif “Asiknya Berbahasa”, pembelajaran bahasa Indonesia dapat diubah menjadi pengalaman imersif dan interaktif yang menumbuhkan kesadaran identitas nasional (Amani & Yuly, 2019; F. Ahmadi et al., 2019). Integrasi nilai Pancasila ke dalam learning management system berbasis AI akan memastikan teknologi tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan (Firmansyah et al., 2024). Pendidikan bahasa tidak hanya mentransfer keterampilan linguistik, tetapi juga menanamkan kebanggaan terhadap warisan budaya (S. Luckyardi et al., 2024; A A Agus et al., 2025).
Kedua, pembangunan arsitektur budaya digital nasional menjadi solusi strategis. Repositori digital dan virtual heritage platform memungkinkan dokumentasi dan revitalisasi bahasa, aksara, serta tradisi daerah seperti Kawi atau Wayang melalui teknologi augmented reality dan 3D modeling (O Sudana et al., 2018; R G Tiwari, S K Rout, & A Kuma, 2023). Teknologi ini tidak hanya berfungsi sebagai pelestari data, tetapi juga menghidupkan kembali pengalaman kultural secara partisipatif (P. A. Permatasari, A. A. Qohar, & A. F. Rachman, 2020). Dengan demikian, pelestarian warisan budaya menjadi kegiatan kolaboratif antara peneliti, masyarakat adat, dan generasi digital.
Ketiga, peran media sosial sebagai ruang negosiasi identitas harus dimanfaatkan secara produktif. Studi (Pujiati et al., 2025; Novianti et al., 2025) menunjukkan bahwa komunitas digital dapat berfungsi sebagai wadah artikulasi budaya hibrida dan solidaritas antar generasi. Melalui narasi, tagar, dan kampanye budaya di platform seperti Instagram dan YouTube, generasi muda dapat menjadi agen pelestarian identitas nasional yang dinamis dan kontekstual (A. Wulandari et al., 2025; C. W. Hoerudin, 2025).
Kesimpulan dan Manfaat
Humanisme digital menegaskan bahwa teknologi harus menjadi sarana untuk memperkuat, bukan menggantikan, nilai kemanusiaan dan kebudayaan. Melalui literasi budaya digital, arsip virtual, dan media sosial, pelestarian Bahasa Indonesia dan identitas budaya dapat dilakukan secara kreatif, partisipatif, dan berkelanjutan. Integrasi teknologi seperti AI, AR, dan game edukatif menjadikan pembelajaran bahasa dan budaya lebih menarik bagi generasi muda. Manfaatnya, tercipta ekosistem budaya digital yang inklusif, adaptif, serta mampu menjaga jati diri bangsa di tengah arus globalisasi dan transformasi
teknologi yang cepat.
Daftar Pustaka
W Novianti et al., “Comparative Study of the Utilization of Social Media by Indigenous Religious Organizations in Indonesia: The Cases of Paguyuban Budaya Bangsa and Lalang Rondor Malesung,” Journal of Intercultural Communication 25, no. 2 (2025): 30–45, https://doi.org/10.36923/jicc.v25i2.1032.
N Amani and A R Yuly, “3D Modeling and Animating of Characters in Educational Game,” in Journal of Physics: Conference Series, vol. 1193 (Computer and Informatics Engineering Department, Politeknik Negeri Jakarta, Indonesia: Institute of Physics Publishing, 2019), https://doi.org/10.1088/1742-6596/1193/1/012025.
G Firmansyah et al., “Developing a Pancasila-Based Dataset for AI Applications in Education,” in Proceedings – 2024 International Conference on Information Technology and Computing, ICITCOM 2024, ed. Chen H.-C. et al. (Esa Unggul University, Jakarta, Indonesia: Institute of Electrical and Electronics Engineers Inc., 2024), 352–57, https://doi.org/10.1109/ICITCOM62788.2024.10762630.
C J Ward and D B Braudt, “Sustaining Indigenous Identity through Language Development: Comparing Indigenous Language Instruction in Two Contexts,” in Indigenous Education: Language, Culture and Identity (Brigham Young University, Provo, UT, United States: Springer Netherlands, 2015), 139–70, https://doi.org/10.1007/978-94-017-9355-1_8.
A H Saha Ghafur, “Tourism Policy Impact on Transforming Religious Traditions of Dayak a Case Study of the Hudoq Ceremony Tradition of the Dayak Bahau Tribe in Tourism Development, East Kalimantan, Indonesia,” Cogent Arts and Humanities 11, no. 1 (2024), https://doi.org/10.1080/23311983.2024.2429938.
A S Kembau et al., “Drivers and Barriers of Sustainable Consumption Behavior in Indonesia Impact of Technology and Culture,” in Proceeding – 2025 4th International Conference on Creative Communication and Innovative Technology: Empowering Transformative MATURE LEADERSHIP: Harnessing Technological Advancement for Global Sustainability, ICCIT 2025 (Universitas Bunda Mulia, Department of Digital Business, Jakarta, Indonesia: Institute of Electrical and Electronics Engineers Inc., 2025), https://doi.org/10.1109/ICCIT65724.2025.11167096.
M T Machmud et al., “The Digitalization Phenomenon in Indonesian Education: Progress, Challenges, and Government Strategies,” in Proceedings – International Conference on Education and Technology, ICET (Universitas Negeri Medan, Department of Community Education, Medan, Indonesia: Institute of Electrical and Electronics Engineers, 2024), 209–16, https://doi.org/10.1109/ICET64717.2024.10778480.
Amani and Yuly, “3D Modeling and Animating of Characters in Educational Game.”
F Ahmadi et al., “Improving Australian Students’ Cognitive Critical Literacy through e-Bipa Based on Android,” International Journal of Innovation, Creativity and Change 9, no. 5 (2019): 119–28, https://www.scopus.com/inward/record.uri?eid=2-s2.0-85078066086&partnerID=40&md5=14d3a0267d7385fd6340f9661b88fc00.
Firmansyah et al., “Developing a Pancasila-Based Dataset for AI Applications in Education.”
S Luckyardi et al., “Advancing Language Education in Indonesia: Integrating Technology and Innovations,” ASEAN Journal of Science and Engineering 4, no. 3 (2024): 583–612, https://doi.org/10.17509/ajse.v4i3.79471.
A A Agus et al., “From Awareness to Action: Rethinking High School Civic Education for the Digital Generation in Indonesia,” Cogent Education 12, no. 1 (2025), https://doi.org/10.1080/2331186X.2025.2534156.
O Sudana et al., “E-Translator Kawi to Bahasa,” in MATEC Web of Conferences, ed. Setiawan J.D. et al., vol. 159 (Study Program of Doctoral Engineering Science, Faculty of Engineering, Udayana University, Kabupaten Badung-Bali, 80361, Indonesia: EDP Sciences, 2018), https://doi.org/10.1051/matecconf/201815901047.
R G Tiwari, S K Rout, and A Kumar, “Indonesia’s Cultural Heritages Preservation: Knowing Wayang More Deeply,” in 2023 International Conference on Sustaining Heritage: Innovative and Digital Approaches, ICSH 2023 (Chitkara University Institute of Engineering and Technology, Chitkara University, Punjab, India: Institute of Electrical and Electronics Engineers Inc., 2023), 7–12, https://doi.org/10.1109/ICSH57060.2023.10482836.
P A Permatasari, A A Qohar, and A F Rachman, “From Web 1.0 to Web 4.0: The Digital Heritage Platforms for Unesco’s Heritage Properties in Indonesia,” Virtual Archaeology Review 11, no. 23 (2020): 75–93, https://doi.org/10.4995/var.2020.13121.
A Wulandari et al., “Digital Learning Communication to Preserving Javanese: The Role of
Digital Media in Education of Local Language in High Schools, Yogyakarta, Indonesia,” Educational Process: International Journal 16 (2025), https://doi.org/10.22521/edupij.2025.16.287.
C W Hoerudin, “The Utilization of Digital Repositories for Teaching and Learning Indonesian Literature: A Review of Library Resources,” Forum for Linguistic Studies 7, no. 6 (2025): 925–40, https://doi.org/10.30564/fls.v7i6.8938.